Untuk kedua kalinya sejak 2004 silam, masyarakat wakatobi mengelar aksi kemanusiaan peduli penistaan al quds (yerusalem), aksi tersebut di digalang oleh KNRP dan beberapa aktifis islam, selain melakukan longmarch dan penggalangan dana sepanjang pantai marina hingga pasar pagi wanci, juga di lakukan penandatanganan petisi menolak alquds atau yerusalem sebagai ibokta negara penjajah israel. Aksi yang dilakukan pada hari minggu tanggal, 5 desember 2017 tersebut menuai simpati dari beberapa pihak salah satunya Bupati wakatobi “ H Arhawi,SE yang juga turut menandatangi petisi tersebut. Menurut salah satu penanggung jawab aksi tersebut yakni ustadzah Rahmadani Umamah, SE. Yang juga ketua Yayasan Amal Quran Wakatobi, bahwa aksi kemanusiaan ini di lakukan untuk mengajak masyarakat wakatobi agar mengetahui serta lebih peduli terhadap persoalan palestina sebagai saudara seiman yang masih di dzholimi dan bahwa Alquds merupakan tempat suci umat islam yang sampai hari ini masih dinistakan, dijajah oleh penjajah israel. Terlihat jelas respon simpati masyarakat wakatobi, yang turut ikut mendukung aksi tersebut dengan melakukan tanda tangan petisi dan dengan rela menyalurkan donasi kemanusiaan di jalananan tempat dilaluinya peserta relawan aksi kemanusiaan, ada semacam kerinduan betapa aksi-aksi kemanusiaan seperti ini sangat jarang di lakukan di wakatobi. Larut dalam aksi kemanusiaan tersebut Bupati wakatobi H Arhawi SE, pun mengecam pengakuan sepihak presiden Amerika Serikat Donal Trump yang telah mengakui yerusalem sebagai ibukota negara israel, selain itu bersimpati dan mendukung upaya-upaya aksi kemanusiaan untuk palestina sebagaimana yang di lakukan oleh KNRP dan lembaga-lembaga pendidikan yang ada di wakatobi. Sehubungan dengan aksi kemanusian peduli palestina tersebut panitia relawan berhasil menghimpun dana kemanusiaan hasil dari donasi masyarakat wakatobi, pantauan akhir dana yang masuk ke panitia sebesar Rp. 6,368,000 . Dana tersebut akan disalurkan langsung ke Komite Nasional Untuk Rakyat Palestina (KNRP) sebagai lembaga resmi yang terpercaya dan fokus pada permasalahan dunia islam terutama di palestina. @ hsn bassim
Hampir semua proses pendidikan yang ia alami di masa kecil di lakukan secara otodidak, sendirian. Mulai dari mengaji hingga membaca buku-buku sastra karangan hamka, maklum ia punya pengalaman buruk soal mengaji yang menurut beliau tak pernah naik tingkat iqro,”gurunya marah-marah kalau saya salah baca”, kata beliau sambil tertawa. Usia kelas 1 SD beliau sudah mahir membaca buku, suatu waktu salah seorang gurunya melihat bukunya dan tidak percaya dengan apa yang dia lihat, anak kelas 1 SD lancar membaca buku sastra . Begitulah, Semua beliau lakukan dengan otodidak. Adalah beliau pimpinan pesantren amal quran wakatobi. Al ustad husein abddulllah basim, ustad muda yang kini memiliki 3 orang putri ini mengenang impiannya sejak SD, berikut penuturan beliau.” Semua itu karena kasih sayang Allah dan juga berkat doa’ mama (panggilan sayang untuk ibu beliau) Sejak SD, saya memang sedikit berbeda dengan anak –anak seumuran saya, entah mengapa di usia kelas 5 sd saya lebih suka tidur di surau, merasa terpanggil untuk memilih menjadi muadzin sebab di surau kami memang pada saat itu sangat jarang terdengan azan. Saat itu saya sangat gemar membaca buku-buku sejarah kepahalawan seperti di ponegoro, soedirman, tuanku imam bondjol, buku tersebut saya peroleh dari perpustakan sd, dan tetangga rumah. Melihat kondisi surau ang sepi (mesi 100 muslim), lingkungan penuh dengan hedonisem berbaju adat budaya, saya mantap memimpikan untuk mendirikan pesantren, “ Mungkin dengan kegemarannya membaca buku, menimbang peristiwa dan anak masjid, di usia belia beliau sudah menjadi ustdaz kecil bagi-bagi temanny di sekolah, ada beberapa temannya di sekolah yang dengan izin Allah berhasil di ajaknya kemasjid, hingga menjadi aktifis remaja masjid. Di bulan Ramadhan beliu berkeliling ke berapa masjid untuk mengisi kekosongan penceramah shalat tarawih, ada masjid yang menerima, tetapi lebih banyak masjid yang menolak dengan alasan masih terlalu kecil untuk menjadi penceramah”. Tekad untuk mendirikan pesantren sduah bulat. Setiap malam sebelum tidur beliau selalu meminta doa ibu, ( ini dilakukan sampi kini) untuk direstui mendirikan pesantren, mewakafkan dirinya untuk dakwah dan cerita-cerita betapa hebatnya para sahabat dahulu yang memerjuangkan agama ini. Semangat dakwahnya terus membuncah, berkenalan dan mengikuti khuruj jama’ah tabligh, ikut menyebarkan buletin Hizbut Tahrir hingga akhirnya beliau berkenalan dengan aktifis dakwah kampus yang sduah menyelesaikan kuliah S1 di UNIV. Yakni al akh hasnan karya. Anak muda berperawakn tinggi kurus, namun ide-ide nya tetap proek dakwah ini di kampungya sungguh luar biasa, mulai dari menghimpun remaja masjid se kecamatan, menghimpun aksi dana kemanusiaan untuk Tsunami Aceh, Cermaah Keliling, Pelatihan Da’i dll. Sesuatu yang belum pernah di lakukan sebelumnya oleh siapapun. Berkenalan dengan Akhi Hasnan banyak menambah wawasan beliau soal dunia dakwah dan pergerakan islam, kondisi umat islam pada saat itu problematikanya, ghozwul fikr. Di usia SMP itulah beliau mulai membaca buku-buku koleksi Al Akh Hasnan , semisal Al Islam Karya Said Hawa, Risalah Pergerakan Ikhwan Al Muslimun, Fikih Sunnah Sayid Sabiq, siroh nabawiyah al mubarakfuri, dan buku yang paling penting bagi beliau pada saat itu adalah We Are of The Wolfes : Protokol Of Zion,sebuah buku rahasia tentang zionisme dan proyek-proyek mereka sampai datangnya dajal. Dan di usia SMP itulah beliau mulai mengenal dunia Tarbiyah dan manhajnya (metode) dakwahnya, dan bertekad untuk terus berada dalam dunia tarbiyah, mewujudkan impian membangun pesantren sebagai basis pengkadera para da’i untuk memperbaiki umat, Bersambung ( menuju Bandung ; kota peregerakan dakwah)