Beberapa waktu yang lalu saya melakukan perjalanan bersama seorang teman.
Di sela-sela perjalanan, handphone teman saya selalu berdering. "Dari bokap.
Nanyain, apakah saya baik-baik di perjalanan?" jelas teman saya seusai menerima
telepon. Lalu usai dering yang lain dia berkata, "dari kakak saya. Dia berpesan
agar hati-hati." Juga, "dari adik, suruh berkabar bila sudah sampai tempat
tujuan. Dia minta oleh-oleh daster batik." Setiap usai menerima telepon, saya
melihat wajah teman saya berbinar. Saya meraba-raba handphone di saku, memeriksa
kalau-kalau ada pesan yang masuk dari keluarga saya. Dan, saya tersenyum kecut
ketika tidak ada pesan apa-apa di sana.
Di lain waktu, seorang teman yang
lain membuat saya terpana. Setiap malam sepulang dia bekerja, handphonenya
selalu berdering. Dengan manja dia menjawab telepon, "Assalamu'alaikum ibu, saya
baru pulang dari kantor. Saya baik-baik saja. Pekerjaan hari ini sungguh
melelahkan. Saya meeting dengan kepala cabang. Tahu nggak Bu, saya paling muda
dan satu-satunya perempuan dalam meeting itu. Em, tadi saya sudah makan di
kantor kok...bla bla bla..."
Setiap melihat kehangatan dan perhatian
seperti itu, diam-diam saya menyimpan rasa iri. Perasaan iri yang membawa saya
pada suasana di mana saya merasa sendiri, sepi, dan sebatang kara di belantara
Jakarta.
Kesedihan saya pun bertambah-tambah. Hingga satu ketika saya
jatuh sakit. Pemilik kost dan teman-teman merawat saya dengan perhatian dan
cinta. Saya teringat tokoh dua generasi dalam film 'Finding Forester' yang
karena persahabatannya kemudian merasa sedarah meski bukan keluarga sedarah.
Tiba-tiba, saya merasa malu telah menanam rasa iri. Bahkan ketika terkadang
menggugat Allah, kenapa saya tak mendapatkan perhatian dan cinta seperti
teman-teman saya?
Astaghfirullah... Rasa malu itu kemudian membuka benak
saya untuk mengingat berbagai kejadian yang kemudian menyadarkan saya dari
hari-hari yang menuntut dan menggugat. Bahwa sebenarnya cinta dan perhatian itu
ada.
Cinta itu ada pada wanita paruh baya bersama suami dan ketiga
anaknya di salah satu sudut kota Yogya. Cinta yang membuat saya selalu ingin
kembali berkunjung, dan merasa nyaman berada di tengah-tengah mereka tak ubahnya
keluarga saya sendiri. Cinta yang membuat saya belajar akan indahnya ketulusan
dan kesederhanaan.vCinta itu ada pada sepasang sahabat yang baru saja dikaruniai
bayi mungil. Cinta yang membuat saya berani menaruh sebagian beban jiwa saya
padanya. Cinta yang membuat perasaan saya menghangat ketika mereka bertanya,
"Bagaimana kabarmu hari ini? Mainlah ke rumah, aku masak makanan kesukaanmu
lho!" Atau kalau saya sedang travelling mereka mengirim pesan, "Nimatilah
perjalananmu tapi cepatlah pulang. Kami merindukanmu."
Cinta itu ada pada
seorang wanita tua yang telah kehilangan anak-anaknya. Cinta yang membuat saya
percaya bahwa pilihan hidup saya sama berharganya dengan pilihan orang lain.
Cinta yang membuat bibir saya mengulum senyum karena setiap berangkat atau
pulang dari perjalanan wanita tua itu selalu mencium kedua pipi dan kening saya
penuh kasih.
Cinta itu ada pada teman-teman di berbagai kota. Teman yang
dengan ikhlas menyediakan tempat singgah bagi saya selama travelling, menjemput
dan mengantarkan kepergian saya, juga mengajari makna hidup yang sesungguhnya
pada saya. Cinta yang membuat langkah saya berat ketika berpamitan untuk
meninggalkan mereka.
Cinta itu ada pada email-email di mailbox, sms di
handphone dari orang-orang yang tak pernah saya kenali wajahnya. Cinta yang
membuat mereka meluangkan waktu untuk membaca, mengkritik dan mengomentari
coretan-coretan saya, menyemangati saya untuk terus berjuang, maju, belajar dan
tak lupa berdoa.
Cinta itu ada pada sahabat-sahabat yang membawa saya
pada pintu hidayah, pencerahan-pencerahan, mengingatkan ketika tersesat dan
menopang saya ketika hampir terjatuh. Cinta yang membuat saya menemukan jalan
Allah.
Ternyata...begitu banyak cinta dan perhatian untuk saya sebagai
wujud dari cinta-Nya. Bahkan saya tidak dapat menghitungnya dengan kalkulator
merek terbagus sekalipun. Tapi, sudahkah saya sendiri berbagi cinta kepada orang
lain? Keluarga, teman-teman, anak-anak yatim piatu, orang-orang di pengungsian,
gelandangan-gelandangan di jalan dan...orang-orang yang juga memerlukan cinta
dan perhatian? Sampai di situ saya tercenung dan sangat malu. Saya hanya pandai
menuntut serta menggugat makhluk bahkan Allah untuk selalu memberikan cinta dan
perhatiannya pada saya. Sementara saya sendiri belum melakukan
apa-apa.
Bukankah semua kebaikan yang kita lakukan pada orang lain,
sesungguhnya akan kembali pada diri kita? Di sanalah Allah menunjukkan cinta dan
kebesaran-Nya. Subhanallah...akhirnya perenungan itu membawa saya tersungkur
dalam sujud panjang dan kesimpulan. Bahwa dengan membagi cinta dan perhatian
pada orang lain, kita akan menemukan kesejatian cinta-Nya.
diceritakan oleh : lestarye@yahoo.com



